SELAMAT DATANG DI BLOG KEROHANIAN DHARMA http://www.dharmasakya.blogspot.com
SALAM SUKSES UNTUK KITA MENJALANIN DHARMA KEHIDUPAN

Perayaan Hari Kathina 2014 / 2558 BE

Vihara Ekayana Arama - Indonesia Buddhist Center mengajak seluruh umat Buddha bersama-sama merayakan Hari Kathina di Vihara Ekayana Arama.
Marilah kita semua mempersiapkan diri untuk senantiasa memberikan dukungan kepada Sangha, dan juga menghadirkan sarana Dharma bagi kita semua
---------------------------------------------
Rangkaian Acara:


PERAYAAN KATHINA
Jam 07.45-09.00 : Pindapata
Jam 09.00-10.40 : Puja Bakti Kathina

Hidup Dengan Serba Instan

Hidup Dengan Serba Instan

Di koran-koran, di televisi, di radio-radio, sungguh mudah sekali untuk menemukan berita-berita tentang bagaimana ketidaksabaran manusia-manusia modern telah membuat persoalan sepele menjadi berat.
Ada kejadian tentang bagaimana seorang pengendara motor menjadi begitu tidak sabar terhadap pengemudi mobil di depannya dan kemudian menganiaya pengemudi tersebut hanya karena sang pengemudi begitu lambat bereaksi ketika lampu hijau menyala. Ada cerita tentang seseorang yang menjadi korban penipuan dukun pengganda uang hanya karena orang itu tidak sabar untuk segera menjadi kaya. Ada banyak cerita tentang ketidaksabaran yang membawa sengsara.

Refleksi Kehidupan

Refleksi Kehidupan

Hari ini aku banyak sekali melamun, dari memikirkan kehidupanku setelah lulus kuliah sampai nanti akan kerja, disana aku sedikit berpikir, apakah akan ada pasangan hidup untukku? Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku sejenak berpikir, mungkin dengan sifatku yang buruk ini akan sulit mendapatkan pasangan (kemudian aku menuliskan sifat burukku, kok banyak banget sih), lalu sedikit tersenyum dan berpikir, ada juga orang yang lebih buruk dariku tapi bisa mendapatkan pasangan hidup (berusaha membesarkan hati sendiri sebab tidak ada orang yang mensupportku, kemudian aku menulis sifat baikku, astaga sedikit sekali).

Menjalankan Kehidupan Ini Dengan Berdana

Menjalankan Kehidupan Ini Dengan Berdana
 
Kita tahu sebagai umat Buddha berdana adalah salah satu dari 10 paramitha. Berdana kita harus melakukannya kalau tidak kapan lagi. Akan tetapi pada saat ingin melakukannya munculah pemikiran yang tidak diharapkan. Pemikiran semacam ini harus kita hentikan. Contohnya berdana sutra atau buku dhamma kepada semua umat. Pada waktu mau berdana timbul pemikiran biaya mencetak mahal, mendingin uangnya dibelikan yang lain, dan lain sebagainya. Padahal kalau kita mau beli sesuatu terutama yang kita sukai. Mahalnya seberapapun kita berani keluarkan uang sebanyak-banyaknya, bahkan uang yang ada didompetpun/di atm dihabiskan sampai tak tersisa. Padahal barang yang kita beli itu ada yang harganya lebih mahal daripada mencetak buku dhamma atau sutra Buddha. Inilah Contoh-contoh yang pernah kita lakukan sehari-hari walaupun hanya sekali, dua kali, atau berkali-kali. Kita harus ingat berdana merupakan kesempatan seseorang untuk berbuat baik.

Karakteristik Buddhis

Karakteristik Buddhis

Buddhadhamma merupakan ajaran yang dibeberkan dan dikumandangkan oleh Buddha Gotama yang berasal dari anak Raja Sudodhana penguasa Kapilavatthu. Karena ketidak-inginan Beliau akan kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki oleh orang tuanya dan Beliau memiliki kecenderungan untuk hidup bebas dan penuh ketenangan, maka Beliau meninggalkan istana kerajaan yang menawarkan kemelekatan duniawi, sementara Beliau memilih untuk bebas dari keterikatan duniawi. Pada akhirnya Beliau keluar dari istana untuk mencari obat agar dapat membebaskan diri dari keterikatan duniawi yang pada akhirnya membawa dukkha. Setelah melakukan pengasingan selama enam tahun di hutan Uruvella, Beliau memperoleh pencerahan. 
Pencerahan inilah yang kemudian Beliau kumandangkan kepada dunia melalui dua orang pedagang yang bernama Bhallika dan Tapussa, selanjutnya kepada Lima Pertapa Kondanna, Pertapa Vappa, Pertapa Bhaddiya, Pertapa Mahanama, dan Pertapa Assaji.

Manusia-wi

Manusia-wi
Pandita R. Hardjon Dhammaraja

Berbicara soal “Manusia”, sesungguhnya dalam Buddhadhamma hal itu termasuk bagian dari 31 alam kehidupan yang ada dalam satu tata surya. Manusia bukan termasuk makhluk yang mengalami dukkha (ketidakpuasan) sepanjang waktu dan bukan pula makhluk yang mengalami sukha (kebahagiaan) sepanjang waktu. Kehidupan manusia di alam ini mengalami sukha dan dukkha silih berganti dan terus-menerus dialami oleh penghuni alam tersebut sebelum mampu mencapai Penerangan Sempurna.

Sebagai umat Buddha yang mengalami dukkha tidak diharapkan untuk bersedih, karena dukkha sifatnya sementara dan merupakan fakta hidup yang tidak bisa ditolak ataupun dielak. Dalam hal ini yang paling penting adalah kita bisa menyadari kondisi tersebut sebagai suatu fakta kehidupan dan tidak pula berharap penuh dengan kegembiraan yang berlebihan ketika mengalami sukha, karena sukha bersifat sementara dan pertanda akhirnya dukkha. Justru dengan kebahagiaan yang sementara dialami, perlu berbagi kepada orang lain di sekitar kita, sehingga yang lain turut merasakan kegembiraan kita. Begitu pula dengan makhluk-makhluk yang tak tertampak oleh kasatmata, berbagi kegembiraan kepada mereka sebagai cara pelimpahan jasa kebajikan. Cara ini khas Buddhistis yang merupakan tradisi yang berawal dari zaman Buddha Gautama.

Tujuan Hidup

Tujuan Hidup
Paulina Tandiono

Kenapa kita harus terlalu melekat pada diri ini? cobalah renungkan, tubuh ini dan paras ini walaupun secantik dan seganteng apapun, suatu ketika akan layu, dan isi didalam tubuh ini hanyalah berisi tengkorak dan cairan darah, yang membuat orang yang memandang itu menjadi ngeri, jijik dan takut, dan kalau tengkorak ini dibakar maka jadilah abu, jadi apa yang kita banggakan tentang diri ini? Semuanya akan kembali ke unsur2 aslinya, sadarilah! Hidup di dunia ini bukanlah untuk memupuk kecantikan lahiriah dan pemuasan nafsu semata aja, tapi kita datang ke dunia ini tujuannya adalah untuk menyempurnakan diri, bukan untuk menyempurnakan kecantikan lahiriah, karena kecantikan ini hanya bersifat sementara dan tidaklah kekal, tapi kalau kita terus menyempurnakan diri, maka kita akan mendapatkan bonus selain kecantikan dari dalam, kita juga akan mendapatkan kecantikan lahiriah yang alami, bukan yang dipermak dari kulit sebelah luar.

Dhamma dan Dhamma

Konon di jaman Tiongkok kuno dulu, pernah hidup seorang pakar kuda. Dia sangat mahir mengenali dan memilih kuda unggulan. Kemasyurannya semakin bertambah setelah dia menulis sebuah buku panduan tentang bagaimana memilih kuda yang unggul. Menurutnya salah satu cirinya adalah mata yang besar, dahi yang simetris dan kaki belakang yang kuat.

Alkisah, sang pakar kuda memiliki anak yang tidak begitu cerdas, namun dia ingin sekali mengajarkan ilmunya memilih kuda yang tangguh itu kepada anaknya. Dalam rangka memberikan latihan, maka dia pun memberikan buku panduan memilih kuda tersebut kepada sang anak dan menugaskannya berkelana untuk mencari seekor kuda yang tangguh dan membawanya pulang ke rumah. Ternyata, tak sampai beberapa jam, sang anak sudah kembali ke rumah berteriak-teriak memanggil ayahnya bahwa dia sudah menemukan kuda unggul. Begitu sang ayah keluar, ternyata si anak membawakan dia seekor kodok. Menurut sang anak, “si kuda unggul” tersebut memiliki mata yang besar, dahi yang simetris dan kaki belakang yang kuat.
(NAVIGASI PAGE)